blog

Piala AFF 2010, Momentum Perubahan

14 Jan 2011 - Footballicious




Tak disangsikan lagi, sekarang ini di setiap cahaya mata pecinta sepakbola Nasional terpancar binar kebahagiaan. Penyebabnya adalah hasil positif yang diraih tim nasional di ajang Piala ASEAN Football Federation (AFF) 2010. Kegemilangan tim Garuda menaklukkan lawan-lawannya di fase grup ini juga menjadi kabar baik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Amat mungkin tema tentang kiprah tim nasional adalah obrolan terlaris di negeri ini saat ini. Bagi yang gemas dengan ulah Malaysia selama ini tentu akan bersemangat membahas bagaimana “pengganyangan” atas negeri jiran itu akhirnya terjadi di stadion Gelora Bung Karno. Kemudian kemampuan tim nasional bangkit dari ketinggalan saat melawan Malaysia dan terutama Thailand menjadi cerita inspirasi. Dan tentunya fenomena Irfan Bachdim yang menghadirkan histeria bagi kaum hawa.

AFF Suzuki Cup











Meski belum sampai pada menghasilkan gelar juara, kiprah tim nasional memang menyajikan sejumlah alasan yang kukuh untuk menghadirkan euphoria atau perasaan bahagia jasmani dan rohani bagi para pendukungnya. Memenangkan semua pertandingan dan keluar sebagai juara grup adalah salah satu alasannya. Kemudian kapasitas lawan-lawan yang dikalahkan. Malaysia datang dengan status juara SEA Games, sedangkan Thailand adalah kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara. Alasan lain yakni mereka memenangkannya dengan gaya. Tim Garuda ini meski masih mengandung sejumlah kelemahan sudah mempertontonkan penampilan yang berbeda. Seorang teman yang awam sepak bola bahkan sampai menggumamkan keheranannya “Kenapa mendadak tim nasional jadi bagus gitu?” Yang awam pun rupanya sanggup melihat perbedaan dan mafhum bagaimana cara bermain tim nasional selama ini.



Timnas Garuda AFF Suzuki Cup 2010

Semangat Perubahan

Selain jarang menghadirkan gelar, tim nasional memang terhitung jarang menunjukkan penampilan yang menawan di lapangan. Dalam sebuah turnamen, tidak banyak pertandingan yang sanggup dilakoni dengan baik dan biasanya cenderung menurun ketika memasuki babak-babak penting. Inkonsistensi ini pula yang menyebabkan rentetan kegagalan tim nasional kita merebut gelar juara. Selama ini, permainan tim nasional “identik” dengan tanpa pola dan ketiadaaan disiplin taktik, gemar mengirim umpan lambung yang berakhir mubazir, dan pelanggaran yang tidak perlu yang kerap menuai kartu. Sekarang, sejauh mata memandang yang terlihat di lapangan adalah sebuah tim yang mampu bermain lebih rapi, taktis dan penuh determinasi. Statistik pun ikut mendukung, tiga kemenangan dibarengi dengan produksi gol yang banyak, 13 gol dan hanya kebobolan 2 gol. Tidak banyak pula kartu peringatan yang didapat, yakni dua kartu kuning masing-masing untuk Ahmad Bustomi dan Firman Utina.

Arus perubahan tampak sedang terjadi di tubuh tim nasional. Hampir semua sektor mengalami peningkatan. Stamina para pemain terlihat lebih bagus sehingga mencegah terjadinya penurunan kualitas permainan di menit-menit akhir pertandingan. Dalam hal mentalitas, tim Garuda tak lagi merasa inferior terutama di hadapan tim Gajah Putih Thailand. Kebobolan terlebih dulu tidak lagi membuat mereka panik dan bermain kacau. Solidaritas dan soliditas tim di dalam dan di luar lapangan juga meninggi dalam wujud kesabaran dan semangat pengorbanan. Salah satunya yang ditunjukkan oleh pemegang rekor gol tim nasional, Bambang Pamungkas. Untuk bagian ini, pada Alfred Riedl kita layak berhutang budi. Pelatih yang obyektif, teguh menerapkan disiplin, ogah diintervensi dan melindungi para pemainnya dari jerat media.

Alfred Riedl, Pelatih Timnas Indonesia













Meski demikian tugas belum juga selesai. Aksi dan hasil impresif di penyisihan grup melahirkan harapan sekaligus tuntutan. Firman Utina cum suis diharapkan menggenapi reformasi yang sedang terjadi di tim nasional dengan menuntaskan dahaga gelar. Pasukan Garuda ini juga dituntut untuk bisa membuktikan bahwa permainan yang sudah ditunjukkan selama ini bukan sebuah kebetulan belaka. Membungkam suara sumbang tentang kemenangan yang didapat karena situasi buruk yang melanda tim lawan. Ketidakmampuan dalam mempertahankan corak permainan yang ada dan bahkan gagal merebut gelar berpotensi membalikkan penilaian dan dukungan positif masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kemenangan-kemenangan besar yang ditorehkan di awal suatu turnamen gagal menjadi ukiran prestasi di akhir perhelatan. Maka tak ada pilihan lain bagi para pemain untuk membuang jauh-jauh sikap puas diri dan menghayati wejangan legenda Liverpool, Bill Shankly, yakni If you are first you are first. If you are second you are nothing.Dan status pahlawan-pahlawan lapangan hijau akan mencapai kesejatiannya saat memenangi secara agregat pertandingan final turnamen ini jelang pergantian tahun.

Firman Utina













Bicara tentang pahlawan, ada yang layak pula disebut sebagai pahlawan yaitu para suporter Merah-Putih. Secara keseluruhan, mereka benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pemain ke-12 yang mengumpankan semangat bertanding pada tim nasional dan menekan terus-menerus tim lawan dengan pressing mental sepanjang pertandingan. Transformasi karakter pada suporter dan penonton mulai nyata terlihat. Perubahan juga terjadi pada gaya dan daya dukung suporter Indonesia. Teriakan dukungan dan nyanyian lagu-lagu optimisme terus disuarakan sepanjang pertandingan dan nyaris tidak terdengar lagi cemoohan dan umpat kesal pada pemain sendiri. Dari waktu ke waktu para penonton semakin paham fungsinya sebagai suporter tim nasional. Mulai menanggalkan baju klubnya dan menggantinya dengan atribut merah-putih. Ini adalah buah dari tren suporter atraktif kreatif yang diinisiasi sejak akhir tahun 1990-an.

Tugas suporter juga belum selesai. Tetap menyokong pasukan Garuda setidaknya dalam dua kali kesempatan sebagai tuan rumah babak semifinal. Tugas besar lainnya yaitu melanjutkan perubahan, membuka jilid baru karakter suporter sepak bola Indonesia yang lebih kaya. Suporter ke depannya diharapkan memiliki sikap kritis dan mampu meletakkan aktivitas mendukung klub-klub kesayangannya dalam kerangka kepentingan sepak bola nasional. Suporter yang dalam fanatismenya masih memberi ruang untuk sisi obyektifitas. Sekali-kali meletakkan kacamata kudanya untuk bersama-sama mengoreksi apabila menemukan kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan para stakeholder sepak bola Indonesia.

Suporter Indonesia
















Ajang Piala AFF ini telah menjadi ajang tarung antara rezim yang ingin melanggengkan kekuasaannya dengan para suporter yang menginginkan perubahan demi sepak bola Indonesia yang lebih baik. Niccolò Machiavelli pernah berujar bahwa tiada hal yang lebih sulit dilaksanakan, lebih sukar dijamin keberhasilannya, lebih berbahaya untuk ditangani ketimbang memulai tatanan baru. Para suporter ini menjadi kepanjangan tangan masyarakat sepak bola Indonesia yang menghendaki perubahan dan tatanan baru adalah solusi yang tidak bisa ditawar lagi. Sejak awal, aroma perlawanan dan represi dari pihak rezim sudah terasa. Selain membuat kampanye tandingan, sweeping juga dilakukan pada para suporter yang berpotensi membawa spanduk dan memakai kaos perlawanan. Namun beberapa atribut perlawanan itu tetap lolos dan terpasang, serta yang tak bisa dicegah adalah chant dan teriakan tuntutan untuk turun. Kemenangan dan prestasi bagus tim nasional memang berpotensi diklaim sebagai keberhasilan kubu sang rezim dan menjadi amunisi baru untuk tetap bertahan. Namun tugas suporter untuk tetap berperan sebagai agent of change. Tim, suporter, otoritas sepak bola negeri, dan bahkan sepak bola nasional tidak ada yang bisa mengelak dari perubahan sebab tidak ada yang abadi di dunia ini, yang abadi hanyalah perubahan.

Penulis : Aji Wibowo

Search


Top Posts

Twitter

Twitter Footballicious Facebook Footballicious Youtube Footballicious Linkedin Footballicious